Satu lagi tentang MARAH

“Mas, bos gue sering marah2 dan lagi marahnya didepan banyak orang, aku eneg banget dech, ngeselin banget” kata si Eros.
” Gue malah lebih parah, ide gue gak diterima sama Unit head gue, eh kemarin ide itu sudah ada aja reportnya di depan meja Manager, gue khan kesel, Mas!” timpal si Edu.
Wah, wah, wah masih jam segini udah pada ngeluh aja sih, eh Ros, elu suatu saat akan berterima kasih sama bos mu itu, dan buat kamu Edu, kamu itu hanya males berkomunikasi, itu khan ide mu, kenapa gak kamu sendiri yang buat report yang jelas, ditulis dan di presentasikan ke Manager mu kalau memang unit head mu gak mau tahu,” Dimas akhirnya berujar karena kesel banget denger keluhan kedua temannya itu.

“Hah, Teriiimmaaaa Kaaaassiihhh, yang bener lu Mas?” timpal si Eros bingung dengan kata2 si Mas Teri yang malah harus berterima kasih sama bosnya yang agak gila itu.
“Maleesss, gue rajin kok..!” sela si edu hampir bersamaan dengan si Eros.

Sahabat semua, ada dua hal yang sering dilupakan kita saat jadi karyawan di suatu perusahaan saat terjadi peristiwa seperti kemarahan bos atau pembajakan ide seperti yang dialami Eros dan Edu diatas. Dan parahnya mereka juga gak sadar bahwa dengan itulah mereka akan bertumbuh, dan juga kejadian itu karena ulah mereka sendiri yang kurang memahami arti komunikasi. Padahal keahlian berkomunikasi adalah salah satu yang terpenting dalam dunia kerja.

Saat Bos marah, sebenarnya mereka sedang memberi sinyal “please Help me”, yang malah disalah artikan sebagai kebencian pada kinerja kita. Seharusnya kita sebagai anak buah datang membantu.

Apalagi kalau terjadi pembajakan ide, sudah seharusnyalah kita menyadari bahwa itu murni kesalahan kita, karena seringnya kita menyampaikan kepada orang yang tidak tepat, dan juga satu lagi kesalahannya, kita menyampaiakannya secara lisan, bukan dengan report yang bagus. Ini sering tidak disadari. Padahal report atau ide kita, itu bisa kita jadikan suatu hasil dari kerja kita yang bisa kita jadikan success story dan apabila disampaikan kepada orang yang tepat (pengambil keputusan tertinggi) buka tidak mungkin bisa memberi keuntungan bagi kita.

Dan berterima kasih pada bos yang suka marah2 itu juga berarti bahwa dengan marah2nya lah kita belajar sabar, dan selama tidak fisik, dan hanya secara mental, maka itu mungkin karena sebagian dari gaji kita memang untuk dimarahin (hehehe…just kidding). Kalau menurut Pak Hari “Time 2 Change” Subagya hidup itu bisa berjalan karena ada FEEDBACK, dan marahpun adalah salah satu feedback.

Sebagai karyawan mengembangkan sikap positif itu penting, sebab akan selalu ada hikmah dari setiap peristiwa yang terjadi, dan dengan itulah kita akan belajar lagi.

Advertisements

One Response

  1. wah wah inspiring story, good good 🙂

    terima kasih mas dimas udah mampir, semoga selalu terinspirasi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: